" Ketangguhan seorang Ibu” Oleh: Waty Resna " .
Bagai disambar petir ibu melihat putri kecil dengan lutut berdarah diantar kepelukkanya. Kakak tersebut menceritakan perlakuan 3 pemuda yang menghalangi aku mencari ayah, dengan wajah ketakutan aku berlari tanpa alas kaki dan terjatuh. Kakak itu membersihkan luka dan menggendong aku. Ibu mengucapkan terimakasih atas bantuannya. Ibu memeluk dan mengusap kepalaku sambil berkata” jangan pergi sendiri lagi ya naak”. Di saat ibu punya anak berumur 6 bulan, 3 tahun, 5 tahun dan 8 tahun. Ayah punya perempuan lain, tetangga dua buah rumah jaraknya dari rumah kami. Beliau menikmati hidup baru dengan melupakan 4 orang anaknya. Keluarga ibuku merasa prihatin dan menyuruh kami pindah. Kondisi ini kurang bagus untuk pertumbuhan perkembangan anak-anak. Alhamdulillah Ibu memulai peran ganda sebagai pencari nafkah dan guru bagi anaknya. Pondasi aqidah dari keluarga dan pendidikan Diniyah Putri Padang Panjang jadilah “ibu menyerahkan semua permasalahan hidup pada Allah”. Ikhtiar ibu pertamakali belajar jualan beras dari pasar ke pasar. Setahun berlalu do’a ibu terkabul, beliau menerima SK mengajar sebagai Guru Agama Islam di SD. Kasih sayang Allah membawa ibu dan ke 4 anak hijrah ke Sungai Lasi. Disini anak-anak ibu merasa disayangi dan dihormati. Tiga tahun berlalu ayah lupa dengan kami, tidak pernah bertemu dan memberi nafkah. Ayah seorang PNS bertugas di Dinas P & K Kota Solok. Ibu menyuruh kami menemui ayah untuk memberitahukan tentang perkembangan sekolah kami, supaya ayah ingat ada empat orang anak yang menjadi tanggung jawab beliau. Selesai aku menerima rapor caturwulan dua kelas tiga dan kakakku kelas lima SD. Pagi itu kami berdua diantarkan ibu ke stasiun. Sambil berjalan ibu menasehati dan mengelus rambut kami beliau berkata “Apapun kondisi yang ditemukan nanti jangan bersedih, setelah rapor ditandatangani segera pulang ya Nak?”. Dalam perjalanan aku menghayal “ indahnya pertemuan dengan ayah karena sudah tiga tahun tidak pernah berjumpa. Kami disambut ayah dengan pelukan hangat dan gembira sambil mencium pipiku, aku digendong ayah sambil di goda “Aduh sudah kelas tiga putri kesayangan ayah”. Khayalanku bertolak belakang dengan kenyataan. Kakakku mengetuk pintu sambil mengucapkan “Salam” terdengar ada jawaban sambil membuka pintu yang muncul ibu tiriku “ Mengapa kesini ? Kami jawab “Mau ketemu Ayah, ingin memperlihatkan hasil belajar kami dan mohon tanda tangani rapor kami” kata kakakku. “Ibu kaliankan guru? Masa dak bisa menandatangani rapor anak‐anaknya” kata ibu tiriku. Mendengar percakapan kami di teras rumah ayah keluar dengan ekspresi yang sangat dingin dan ketakutan. Ayah tanda tangani rapor kemudian masuk kembali. semua berlalu dengan hening tanpa cerita dan biaya. Dua anak kecil bingung, sedih luar biasa. Kakak menggandeng tanganku, pamit pulang. Ibuku perempuan tangguh yang luar biasa, kami yakin ibu sangat sedih tetapi ibu berusaha menghibur “Bagus anak‐anak ibu, sudah pintar dan berani berdua pulang pergi naik kereta api dari Sei Lasi ‐ Solok”. “Kalian harus bersyukur pada Allah, kalau tidak ada ayah tidak mungkin kalian ada. Ayah sayang kepada anak‐anaknya” ibu menghibur. Lima tahun bertugas di SD Sungai Lasi, ibu dimutasikan ke SD Guguk Sarai lebih kurang 6km dari rumah. “Lelah juga ibu jalan kaki pulang pergi sekolah, bagaimana kalau belajar naik sepeda onthel jantan peninggalan ayah” kata ibu. Pertama kali belajar naik sepeda disekitar rumah, Alhamulillah aman. Selanjutnya belajar di jalan raya beberapa kali, malang yang tak dapat ditolak ibu dan sepeda jatuh ke dalam saluran air dengan kedalaman 2 m dari pinggir jalan. Sebagian besar tubuh ibu luka lebam, yang paling parah lutut dan paha ibu membesar dan membiru. Alhamdulillah Senin pagi ibu memberanikan diri naik sepeda ke Sekolah, adik bungsuku minta ikut. Ibu menitipkan adikku pada tetangga karena belum berani membonceng. Betapa terkejutnya ibu selesai merapikan pakaian di kantor, beliau melihat adikku di pekarangan sekolah. Ibuku berlari merangkul, menggendong sambil menangis terharu melihat anak kecil umur 5 tahun jalan kaki membuntuti ibunya. Hal ini tidak boleh terulang lagi, ibu mencoba menemui Kepala Sekolahku dan memohon adikku ditumpangkan di kelas 1. Alhamdulillah bapak kepala sekolah menerima usulan ibuku, ujicoba adikku belajar selama satu caturwulan. Andaikan tidak mampu mengikuti belajar adikku dikeluarkan. Alhamdulillah adikku bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Jadi aku kelas 5, adikku kelas 3 SD dan kelas 1 SDN Sungai Lasi. Aku bersyukur pada Allah atas nikmat mudah memahami ilmu, sehingga berperingkat baik di kelas. Temanku di kelas ada satu orang yg supernakal dan jail. Semua teman pernah di jailinya kalau anak perempuan ditarik roknya adakala terbawa celana dalam, kalau laki-laki dipukul tubuhnya. Akulah satu-satunya yang tidak bisa diganggu, tapi dia selalu menganggu adik bungsuku. Akhir caturwulan III sekolah melaksanakan gotong royong masal. Semua sibuk bekerja kecuali temanku suka jail mulai menganggu temanku satu persatu, termasuk adik bungsuku pulang sekolah sehingga kaki dan tangan adikku berdarah. Ibuku pulang sekolah melihat kondisi adikku, beliau marah bergegas datang ke Sekolahku. Awalnya ibu ingin melaporkan ke Kepsek dan walikelasku, tetapi begitu masuk ke halaman sekolah terlihat temanku sedang mengganggu anak lain. Lansung ibu memarahi temanku dan membawanya ke ruang Majelis guru. Kepsek merasa tersinggung, kami tiga beradik disuruh meninggalkan sekolah.
Pindah ke kampung halaman tidak seindah harapanku, kakakku kelas II SMPN, aku masuk kelas VI SDN 2 Teladan dan adikku kelas II dan IV di SDN 1 Padang Sibusuk. Ibu masih bertugas di SDN Guguk Sarai, kami tinggal empat beradik. Keperluan makanan dan pakaian aku kerjakan bersama kakakku. Karena kami dibesarkan oleh seorang ibu tanpa figur ayah, kami sering dibuli dan diremehkan baik oleh keluarga maupun orang lain. Alhamdulillah di SMPN aku termasuk anak yang disayang guru karena hasil belajarku baik dan perjalanan hidupku. Guruku banyak teman ayah waktu sekolah merasa heran dan tidak percaya ayahku setega itu. Ayahku seorang yang terdidik dan punya jabatan di tempat kerjanya, sebagai anak tunggal punya harta pusaka yang banyak tetapi tidak satu sen pun beliau berikan pada kami. Suatu hari aku di panggil bapak Kepsek, bapak guru B, Inggeris dan bapak guru Sejarah ke kantor. Aku gementar apa salahku yaa, “ kok takut dan pucat naak” kata bapak: “Besok ayah wati akan hadir mencari bibit Atlit di Sekolah, tolong temui kami saat ayah kumpul bersama” ada apa tu paak…..? minta uang ke ayah dihadapan bapak…. Boleh kalau ayah wati mengatakan tidak ada uang…? Bapak akan menyodorkan uang bapak untuk dikasihkan….?” Terimaksih paak …? Atas perhatian dan kasih sayang bapak ….? Maaf paak ibu mengajari kami untuk tidak meminta-minta, karena kalau meminta tidak dikasih akan sangat sedih sekali. Kalau diberi ya diterima. Alhamdulillah nasehat itulah yang tertanam dihati kami, tidak pernah meminta kepada siapapun, termasuk ayah sendiri. Kakak ayahku pernah menyuruh kami minta hak sebagai anak atas penjualan rumah nenek seharga (100 emas=250grm). Keluarga ayah sangat kecewa karena satu persatu harta pusaka dijual tidak ada sedikitpun teringat untuk 4 orang anak sudah ditelantarkan.
Alhamdulillah bantuan dari mamak-mamak ibuku sering memberi hadiah jika berhasil dalam belajar, disaat aku kuliah beliau bantu tiap bulan. Kami anak‐anak ibu salut sekali, beliau tidak pernah memberikan kalimat negatif terhadap ayah. kami yakin ibu pasti sedih, tetapi beliau tidak pernah memperlihatkan kekecewaan ataupun kesedihan beliau dihadapan kami. Betapa mulianya hati ibu kami saat beliau akan menunaikan ibadah haji yang ke 2 kalinya tahun 1996, ayahku sudah kena stroke. Ibu berkata “Mampukah anak2 mengantarkan ibu bermaaf-maafan dengan ayah”. Semua kaget “ ibu tidak ada bersalah ke Ayah, 30 tahun tugas ayah ibu pikul sendiri”. Adik ibuku merasa bersyukur ayahku berpulang kerahmatullah saat ibu menunaikan ibadah haji. Allah mengabulkan do’a kami, ibuku terhindar dari fitnah dan tidak menginjakkan kaki di rumah yang pernah melukai bathin putrinya. Alhamdulillah ketangguhan ibu mengantarkan keempat anaknya menjadi Sarjana dan sudah membina keluarga. Keikhlasan ibuku atas izin Allah bisa menikmati dua kali ibadah haji dan satu kali umrah bersamaku. Alhamdulillah Kami anak menantu dan cucu atas izin Allah sudah pernah ke Tanah Suci. Alhamulillah wasyukurillah aku berhasil menunaikan ibadah haji regular tahun 2005 dengan fasilitas Taibah Madinah hotel dan Makkah di Hotel Sulaimaniah depan Masjid Jin. Bersama suamiku tahun 2019 putri yang terlupakan membadal haji ayah, semoga Mabrur Aamiin .

Komentar
Posting Komentar