SELAMAT JALAN ADIK BUNGSUKU (Part 1)

 Menjelang Kepergianmu

Ba’ada Ashar  28 Juni 2021, adikku seperti biasa akan video call memantau  kondisi bunda kami dan keluarga besar dikampung.  Begitu juga sebaliknya keluarga di Jakarta. Aku  kaget melihat adikku pucat suaranya serak dan letih. Tak sabar melihat semua itu, aku bertanya bagaimana kondisi dinda, anak-anak dan keluarga kita sayang?... dinda Wan mengabari kami bahwa : “ dia demam sejak 2 hari yang lalu, hasil swab +, isteri adinda Wan, ananda Rara, ananda Aqil juga kurang enak badan “. Disarankan pihak puskesmas dan tim kesehatan semua anggota keluarga yang ada di rumah dilakukan test Swab,  hasilnya akan keluar  pada  hari Jum’at anggal 2 Juli 2021.

Setiap hari aku usahakan vc dengan anak-anak memantau kondisi setiap anggota keluarga, mensuport dan mengirimkan do’a  untuk kesembuhan semuanya.  Beberapa hari terakhir adikku  dan anak-anak tidak mau lagi vc, kita telepon aja ya bu kata  Akil.  Hari Sabtu tanggal 3 Juli 2021  adikku menginformasikan bahwa hasil swab seluruh penghuni rumah di Condet positif Covid 19.  Aku sedih apa yang bisa uni bantu dari jauh. Melihat kondisi adikku mulai lelah wajahnya pucat, nafas sesak disamping isterinya yang juga demam. Aku sarankan untuk memasang  oksigen karena terlihat sesak sekali. Iya uni oksigen tinggal sedikit biarlah dicoba seperti ini dulu, nanti kalau tidak kuat  baru dipasang.  Mohon do’a bunda dan keluarga di Kampung ya unii semoga kami lekas sembuh.

Kekhawatiran bundaku dan keluarga semangkin terasa, setelah mengetahui  obat-obatan yang dibutuhkan langka di Jakarta. Sementara adikku dan anak-anak isoman di rumah,  Rara bersama suami Rizki di lantai 1 Akil, Qilal, Caca isoman di Lantai 2 ayah dan mamanya di Lantai 3. Mendengar khabar itu kami berbagi tugas vivi membeli obat-obatan yang diperlukan di Padang, aku suami dan kakakku mencari tambahan obat-obatan herbal, makanan, rendang persiapan untuk 7 orang.  Ba’da Magrib aku hubungi satu persatu hp adikku, anak-anak, dan isterinya tidak satu pun dapat dihubungi. Aku mulai gelisah aku coba menghubungi keluarga lain yang ada di Jakarta, tidak satupun yang tersambung. Kami sangat khawatir, terbayang semua sudah terkapar tak berdaya sehingga tak satupun yang mengangkat hp.  Ya Allah apa yang harus kami lakukan? Bibirku bergetar mataku basah disetiap helaan nafasku selalu memohon kepada Allah untuk  kesembuhan adikku dan anaknya.  Pikiranku jadi tak menentu setelah mendengar jawaban bundaku saat kuberi tahu adik bungsuku dan anaknya terpapar Covid 19 : Bunda ..... (kata ku) Yaa ....... ( kata ibuku) “Malam ini kita bersama-sama mendo’akan adinda wan dan anak-anak lekas sembuh. Jawaban ibuku “ baa maningga anak bungsu ambo, inyo sayang bana ka ambo” .  Alangkah kaget aku  Ya Allah, biasanya kata-kata orang tua itu pertanda.... janganlah  saat ini Ya Allah. Sehatkanlah adikku, anak- anak dan isterinya. Dia sangat menyayangi aku dan bundaku. Kontak batin kami sangat kuat. Apabila aku dan bundaku mengalami sesuatu hal ada insting pada adikku begitu juga sebaliknya. Malam itu kami tidak dapat tidur mohon pertolongan pada Allah Subhana wata’ala kesembuhan adikku dan keluarga. Sebelum subuh aku coba hubungi adik sepupu bekerja sebagai perawat di RS Fatmawati. Aku ceritakan kondisi adikku dan keluarga sore kemaren. Bersyukur pada Allah, rupanya tadi malam adikku sudah dirawat di Rumah Sakit Duren Sawit. Silahkan uni hubungi kata sepupuku “ pasien yang terpapar Covid 19 biasanya hp ditangan pasien. Kalau ada apa-apanya nanti dikasih khabar oleh suster ataupun dokter yang merawat.  Selesai sholat Duha dan sholat 5 waktu aku tanyakan kondisinya aku kirim kalimat motivasi dan do’a untuk sembuh dari penyakit. Dengan harapan adikku terhibur membacanya.

Alhamdulillah, disaat aku sedang membaca Al-Quran tiba-tiba hpku berdering terlihat adikku video call. Jantungku berdebar  kencang aku angkat hpku terlihat adikku duduk di ranjang Rumah Sakit dengan selang infus dan pernafasan. Berusaha sekuat tenaga adikku menghubungi kami karena dia merasakan kegalauan keluarga di Padang Sibusuk. Ya Allah dirawat jadinya adinda yaa, uni bunda dan keluarga mendo’akan semoga sesuai obatnya, teruslah berzikir dan baca ayat-ayat suci Al-quran yang hafal semoga virus di dalam tubuh adinda ko. Adikku lebih banyak bahasa isyarat malam itu dengan suara yang sangat pelan dan terbata-bata ngucapin terimakasih. Aku khabarkan besok pagi uni akan kirimkan obat-obatan dari apotik, daun sungkai, obat herbal, makanan dan rendang untuk anak-anak di rumah.   

Senin pagi aku berangkat menuju Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat, terlebih dahulu singgah di JNE mengirim paket untuk adikku. Aku kirimkan foto isi paket dengan karyawati yang menerima dan mengadiministrasikan paket, karena hari itu banyak sekali paket berisi obat-obatan tuk keluarga di pulau Jawa. Pukul 11 setelah selesai urusanku di Dinas Pendidikan, begitu keluar kantor hpku berdering lagi. Aku angkat terlihat adikku lebih segar dan mengucapkan terimakasih banyak atas kiriman paketnya, maaf sudah merepotkan uni. Aku bilang dak ada yang merepotkan, Alhamdulillah adinda sudah di rawat tentu obat-obatan sudah tersedia, mudah-mudahan obat yang uni kirim sesuai dengan anak-anak dan isteri adinda yang sedang isoman di rumah. Seperti biasa aku sedang zikir kembali adikku vc jam dinding menunjukkan pukul 22.15 WIB. Aku bahagia sekali melihat adikku tanpa selang di tubuhnya dalam keadaan segar bugar. Alhamdulillah Ya Allah sehatkanlah adikku, lama kami berbicang-bincang “ bagaimana kondisi adinda wan saat ini? Alhamdulillah uni sudah agak enakan, saturasi wan sudah 98. Terimakasih unii sudah perhatian sama anak-anak dan dirinya. Tolong uni sampaikan ke anak-anak dan isterinya, mohon paksakan makan dan minum obat walaupun pahit. Khusus pesan untuk isterinya supaya makan, kebiasaan isterinya kalau sakit tidak mau makan sama sekali, rupanya inilah amanah terakhir adikku. Selasa malam aku vc dengan Rara menanyakan khabar semuanya, aku bilang ayah berpesan mohon Rara dan suami memperhatikan makanan obat-obatan mama dan adik-adik. Alhamdulillah  aku video call  dengan isteri adikku menyampaikan langsung pesan adikku. Rabu 07 Juli 2021 aku terbangun pukul 02.55 pagi, setelah duduk membaca do’a dan akhir surat Al-baqoroh aku keluar kamar sambil menghidupkan  androidku. Pertama kali kulihat wa dari ananda  Rara, dia mengabari bahwa kiriman obat-obatan, makanan rendang  yang aku kirim sudah diterima Selasa malam  pukul 23.50.

 Alhamdulillah  ya Allah sesuai jugalah obat yang aku kirim dan sehatkanlah anak-anak  isteri adikku karena semuanya positif Covid 19 isolasi mandiri di rumah. Aku ganti pakaian berwudhu siap tuk sholat tahajjud. Dalam sujudku berdo’a “sehatkanlah ya Allah adikku tersayang yang sedang dirawat di Rumah Sakit Duren Sawit serta Anak-anak dan isterinya  Ya Allah yang Maha menyembuhkan. Selesai sholat subuh, seperti biasa bundaku yang sudah ditempat tidur semuanya. aku bersihkan tempat tidur, aku mandikan dan berwudhu, memasang pempers dan baju serta mendampingi bunda sholat subuh. Usai menyiapkan minuman ibuku lanjut mempersiapkan sarapan, suamiku pergi membelikan lontong untuk ibu.

Hpku berdering kencang sekali, aku lihat rupanya dari adik isteri kakakku yang tinggal di Halim anak-anak memanggil Cu ill, begitu aku angkat terdengar suara menanyakan apakah Rara sudah menelpon ni Wati? Da Wan sudah berpulang kerahmatullah unii? Sambil bertangis-tangisan aku tanyakan informasi dari siapa ill, dari Rara unii? Jam berapa...?  kok Cu ill yang tahu berita ini lebih dahulu? Ribuan pertanyaan berkecamuk di dada ini, mau berangkat menghadiri pemakaman tidak mungkin karena Lock Down dan ibunda kami juga sakit. Semenjak wan dan anak-anak sakit Cu ill setiap pagi menelpon Rara menanyakan kondisi semua. Pagi itu Rara baru dapat berita dari dokter yang merawat ayahnya (adikku), Cu ill pas menelpon jadilah Cu ill yang pertama dapat berita dari Rara. Aduh Cu ill... apa yang bisa kita lakukan... ? keluarga tetangga tidak diperbolehkan datang ke rumah duka.  Percakapan kami terdengar oleh tetangga dan suamiku baru pulang dari membeli makanan, semuanya menyangka ada apa-apa dengan ibu kami. Suamiku merangkul dan memberi arahan supaya aku lebih tenang dulu. Sedih sekali membayangkan semuanya bagaimana anak-anak menerima musibah ini, Ya Allah berilah kesabaran dan kekuatan pada   ananda Rara dan suami, Akil, Qilal, Chaca terlebih lagi uni Siti Rofidah isteri adikku. Sebelum berangkat ke Rumah Sakit, Aku minta maaf tidak bisa mendampingi dan menyarankan supaya sarapan dulu sekurang-kurang minum susu dengan roti.



Komentar

  1. Uni ....terharu membaca nya un ...
    Lanjutkan karya karya yang lain ....uni hebat

    BalasHapus
  2. Alur cerita yang menarik....akhir dari perjalanan hidup adinda tercinta. Semoga Allah swt tempatkan di surga-Nya. Aamiin...YRA

    BalasHapus
  3. Uni salut pada adinda yang telah menanamkan kasih sayang dan perlakuan dinda terhadap ibunda kita dan uni kepada ke 4 orang anak2mu. Alhamdulillah terlaksana dengan baik melalui video call, bila pulang kampung mereka menyuapi neneknya. Semoga kasih sayang adinda yang diamalkan anak2 menjadi amal dan do'a dari anak2 Sholeh. Aamiin Ya Robbal'alamin.

    BalasHapus

Posting Komentar